Minggu, 20 Mei 2012

Pesan untuk pelajar

Saya tidak tahu, apakah saya seseorang yang pantas untuk menuliskan pesan dan harapan ini kepada para pelajar Indonesia. Namun, yang pasti saya merupakan satu dari dua jenis orang yang terdorong untuk menuliskan sebuah pesan. Siapa sih yang saya maksud? Jenis orang yang pertama adalah seseorang yang sukses, dan kemudian menuliskan suatu pesan agar kesuksesannya dapat dicontoh dan diteruskan oleh orang lainnya. Jenis orang yang kedua adalah orang yang gagal, yakni seseorang yang jatuh dan tidak ingin orang lain melakukan kesalahan yang sama seperti dirinya.

Apakah isi pesan saya? Intinya hanya satu kalimat saja, manfaatkan waktu mudamu dengan sebaik2-nya. Saya juga ingin me-reinvent makna dari kata belajar. Mengapa demikian? Karena saya pribadi agak "trauma" dengan kata belajar. Waktu kecil, terlebih saat usia sekolah, pasti kita sering "diminta" oleh orangtua kita untuk belajar bukan? Bersyukurlah rekan2 yang orangtuanya sedikit banyak mengerti tentang Hypnoparenting, sehingga kata belajar tidak menjadi momok seperti yang saya rasakan ketika itu. Sehingga dengan latar belakang tersebut, saya ingin memaknai kata belajar dengan kata2 yang lain: curiosity (rasa ingin tahu), dan research (mencari kembali).

Semasa saya, profesi yang dicita2-kan oleh anak2 seusia saya masih begitu terbatas. Dokter, guru, tentara, insinyur, adalah beberapa di antaranya. Mungkin dalam masa kini pun, masih tetap sama. Untuk mengubah hal tersebut, saya ingin memberi tahu beberapa profesi yang (semoga) dapat membuka wawasan kita semua. Yang pertama cameraman dan photographer. Dua pekerjaan ini memiliki satu kesamaan, yaitu bergerak di bidang seni visual. Belakangan ini kaum menengah ke atas Indonesia mulai keranjingan hobi fotografi. Tentu ini sesuatu yang positif, karena secara langsung/tidak langsung anak2 mereka memiliki pengertian yang lebih tentang seni visual ini. lalu bagaimana yang tidak memiliki akses? Harga kamera kan cukup mahal? Pertanyaan ini, mungkin saya belum bisa menjawabnya. Mungkin jika ada anggota komunitas fotografi yang membaca, semoga tulisan ini bisa memberikan inspirasi untuk mengunjungi sekolah2 di tanah air.

Profesi yang kedua adalah penulis. Saya yakin dan percaya profesi yang kedua ini lebih dimengerti oleh pelajar2 kita. Begitu banyak perkembangan buku2 populer di negara kita beberapa tahun belakangan ini. Bahkan, tren-nya sudah mengikuti tren di luar negeri, seperti cerita novel yang diadaptasi ke layar lebar. Lalu apa pesan saya? Modal untuk menjadi penulis adalah, rajin menulis. Seperti halnya pelukis, untuk menjadi seseorang yang ahli harus terus bersedia mengasah kemampuan kita. Uniknya, kegiatan menulis memiliki dual (pasangan) yaitu membaca. You get the point, right?

Bagaimana dengan internet dan televisi? Untuk hal ini saya ingin membagikan pesan yang pernah saya dengar dari AA Gym (di tivi tentunya). Apakah itu? Yaitu kita harus melatih diri untuk dapat mengambil dan memilih tayangan dan informasi yang ada di hadapan kita. banyak orang yang menganalogikan siaran televisi seperti racun, padahal yang mereka lihat hanya bagian sinetron tertentu saja. Sepengetahuan saya, banyak nilai2 yang tidak hanya menghibur, tetapi bisa memperkaya wawasan kita dari siaran televisi dan internet.

Bagaimana dengan sains? Saya sangat bangga dengan prestasi siswa2 Indonesia di kancah nasional dan bahkan internasional. Namun ada yang missing (hilang) dari ini semua. Sains di Indonesia cenderung tidak punya masa depan, karena (menurut saya) kita sudah jauh tertinggal dengan negara2 lainnya soal IPTEK ini. Yang saya tahu, di luar negeri, contohnya Singapura saja, terdapat "lembaga riset komersial" yang beranggotakan ilmuwan2 hebat, bahkan ada yang anggotanya sampai saat ini masih berstatus sebagai WNI. Jadi pesan yang ingin saya sampaikan adalah, jika kamu2 memang sangat tertarik dengan sains (Biologi, Fisika, Kimia, Astronomi, dll.), persiapkan dirimu untuk menjelajah ke luar negeri. Pun tidak menutup kemungkinan adanya kesempatan di dalam negeri. Begitu banyak permasalahan nyata di dalam negeri yang membutuhkan banyak solusi dari pemikir2. Sebut saja masalah pertanian dan pangan. Namun dapat dipastikan, banyak sekali tantangannya. Beberapa yang paling utama adalah pendanaan dan sarana riset.

Semua yang saya sampaikan di sini adalah masalah access. Jika negara belum memberikannya, maka cari dan raihlah! Semoga tulisan saya ini bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar